Recent Posts

Pages

Rabu, 14 April 2010

perkembangan bicara

Sebagian besar orang tua memandang masa kanak-kanak sebagai usia yang mengadung banyak masalah atau usia yang sulit. Hal ini disebabkan karena pada masa ini sering muncul masalah perilaku dibandingkan dengan masalah fisik seperti yang terjadi pada masa bayi. Para pendidik sendiri menamakan masa ini sebagai masa prasekolah untuk membedakannya dari anak yang cukup matang untuk pergi ke sekolah. Masa pra sekolah berlangsung dari usia dua tahun sampai dengan enam tahun (Hurlock, 1999).
Hurlock (1999) juga menyatakan bahwa ahli psikologi menyebut usia ini dengan usia kelompok, yaitu masa di mana anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial untuk persiapan penyesuaian diri pada saat masuk sekolah. Masa ini disebut juga sebagai usia menjelajah, di mana anak belajar menguasai dan mengendalikan lingkungannya, termasuk manusia dan benda mati yang ada di sekitarnya.
Awal masa kanak-kanak ini juga dinamakan sebagai saat untuk mengembangkan keterampilan. Anak juga memiliki kecenderungan untuk meniru orang lain yang berada di sekitarnya. Terbukti dengan tindakan yang menonjol pada masa kanak-kanak ini, yaitu meniru tindakan dan pembicaraan orang lain, sehingga masa ini disebut juga sebagai usia meniru. Meskipun kecenderungan untuk meniru ini cukup kuat, namun anak menunjukkan kratifitas dalam bermain, sehingga disebut juga sebagai usia kratif (Hurlock, 1999).
Piaget (dalam Hurlock, 1999) menamakan masa ini sebagai tahap pra operasional, di mana pada masa ini anak menjadi egosentris sehingga berkesan pelit karena tidak bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Pada masa ini anak belum bisa membedakan dengan tegas antara perasaan dan motif pribadinya dengan realita dan dunia luar, sehingga kemungkinan untuk menyampakai konsep-konsep tertentu kepada anak masih terbatas (Nasution, 1998). Oleh sebab itu, cara untuk memberikan konsep dasar kepada anak yang menarik dan membuatnya merasa senang (tidak terpaksa) memegang peranan yang sangat penting.
Berbeda halnya dengan masa bayi, sebagian besar ketidakberdayaan bayi yang baru lahir berasal dari ketidakmampuan mereka untuk menyatakan kebutuhan yang dapat dipahami orang lain. Setelah ulang tahunnya yang kedua, anak mulai meninggalkan komunikasi prabicara yang sangat berperan selama masa bayi. Periode mengoceh pada masa bayi juga berlalu, anak mulai belajar berbicara meskipun isyarat banyak digunakan sebagai pelengkap pembicaraan, seperti isyarat tangan dan mimik wajah. Proses perkembangan berbicara anak ini tidak berkembang dengan sendirinya, tetapi perlu adanya proses pembelajaran dan proses ini terjadi pada masa kanak-kanak. Salah satu tugas perkembangan pada masa kanak-kanak ini adalah kemajuan berbicara. Awal masa kanak-kanak umunya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok dalam belajar berbicara, yaitu menambah kosa kata. Jika anak tidak berhasil melaksanakan tugas perkembangan pada usia yang sebenarnya, maka ia akan mengalami hambatan pada usia perkembangan selanjutnya.
Bicara merupakan sarana berkomunikasi dan dalam berkomunikasi ada dua keterampilan yang harus dikuasai, yaitu keterampilan menangkap pesan dari orang lain dan keterampilan menyampaikan pesan dari orang lain. Keterampilan berbicara pada masa kanak-kanak ini akan mempengaruhi cara anak dalam bersosialisasi, baik dengan teman, orang tua ataupun gurunya. Keterampilan berbicara juga berpengaruh terhadap cara anak mengungkapkan emosinya, seperti perasaan bahagia, sedih, kasih sayang, cemburu, takut dan marah.
Kemampuan berbicara adalah salah satu modal dasar manusia untuk menyempurnakan hidupnya. Bila terjadi kelambatan perkembangan berbicara, maka yang terganggu adalah tampilan personal, hubungan sosial, pencapaian prestasi di sekolah dan akan timbul kelainan-kelainan lain di kemudiann hari. Oleh sebab itu orang tua perlu mengenal tahap-tahap perkembangan bicara yang normal pada balita untuk mengetahui adanya keterlambatan perkembangan bicara pada anak semenjak usia dini.
Pada usia 4 tahun, seorang anak telah membentuk 50 % dari intelegensi yang dimilikinya pada waktu dia dewasa dan sebelum anak berusia 8 tahun anak tersebut telah membentuk 80 % dari intelegensi yang akan dimilikinya pada waktu dewasa (Bichler dalam Hurlock, 1999). Freud (dalam Hurlock 1999) juga menambahkan bahwa kepribadian sebenarnya telah terbentuk pada akhir tahun kelima dan perkembangan selanjutnya sebagian besar hanya merupakan penghalusan struktur dasar. Benyamin S Bloom, seorang professor pendidikan dari Universitas Chicago juga menemukan fakta bahwa 50 % dari semua potensi dasar manusia sudah terbentuk sejak masih berada dalam kandungan hingga usia 4 tahun. Sebanyak 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 - 8 tahun. Dan potensi sisanya, yaitu 20 %, terbentuk dari rentang usia 8 tahun hingga manusia itu meninggal.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa penanaman dasar-dasar kepada anak usia 2 tahun sampai dengan 6 tahun (masa kanak-kanak) akan sangat menentukan perkembangan selanjutnya. Penanaman dasar yang baik akan membantu perkembangan dan pertumbuhan di masa yang akan datang, sebaliknya penanaman dasar-dasar yang kurang baik akan mengganggu perkembangan serta pertumbuhan anak selanjutnya. Cara menanamkan dasar-dasar yang baik, akan mempengaruhi tingkat pemahaman dan ketertarikan anak. Disamping itu, penggunaan sarana dan alat yang menarik akan membuat anak menjadi senang dan tidak menjadi terpaksa. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1999) anak senang dibacakan dan melihat gambar-gambar dari buku, dongeng-dongeng, nyanyian anak-anak, cerita-cerita tertentu tentang hewan dan kejadian sehari-hari.
Berdasarkan fakta di atas, jelas bahwa sebagian besar potensi dasar manusia terbentuk di rumah, ketika ia belum mengikuti pendidikan formal. Ini berarti kemampuan anak, kebiasaan, karakter, dan sikapnya bergantung pada proses pembelajaran di rumah oleh orangtua. Masalahnya, tidak semua orangtua bisa memberikan pembelajaran bagi anak usia dini dengan benar. Banyak orangtua yang belum mengetahui cara yang benar untuk berkomunikasi dengan anak, untuk memberikan stimulasi kecerdasan, baik secara kognitif, emosi maupun spiritual. Ironinya, hal ini justru banyak terjadi di keluarga miskin, karena tingkat pendidikan orang tua yang rendah. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan, karena anak-anak adalah pemegang kendali masa depan negeri ini dan pendidikan adalah hak setiap anak dalam rangka mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisinya, termasuk salah satunya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Hal ini juga ditegaskan dalam Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang perlindungan anak, untuk itu perlu kerja sama semua pihak untuk mengatasinya.
Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar dan dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan non formal. Sasaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) jalur nonformal adalah anak-anak usia dini yang karena sesuatu hal terpaksa tidak dapat atau tidak mampu mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada jalur pendidikan formal. Berdasarkan sasaran tersebut, maka kebijakan yang ditempuh adalah mengembangkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang murah dan mudah namun mengedepankan prinsip Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang benar sesuai dengan tingkat pertumbuhan, perkembangan psikologis dan kebutuhan spesifik anak.
Dewasa ini pendidikan formal di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) banyak memberikan andil yang baik bagi persiapan anak ke jenjang pendidikan dasar. Namun ketersedian Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi anak miskin di perkotaan sangat terbatas keberadaannya, selain sulitnya pengelolaan dana yang dibutuhkan untuk memfasilitasi belajar juga faktor ketidakmenentuan peserta didik dalam mengikuti jadwal belajar. Keadaan ini memberikan dampak yang besar terhadap masyarakat, sehingga partisipasi mereka terhadap pengembangan suatu sekolah alternatif bagi anak miskin di perkotaan terbatas. Padahal keberadaan sekolah tersebut sangat dibutuhkan. Selain berfungsi sebagai tempat mendapatkan pelajaran juga diharapkan dapat memberikan kemudahan pada masalah biaya pendidikan.

0 komentar:

Posting Komentar

Games

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More